Tuesday, July 9, 2019


KUTIPAN DALAM NOVEL “SEMUA ANAK BANGSA”
1.      “Betapa aneh kalau setiap kemuliaan dilahirkan di atas kesengsaraan yang lain. Dan betapa kacau diri di tengah kenyataan dunia, dalam tingkatan pendapat dan perasaan tak terumuskan”
Semua Anak Bangsa, hal 57                
Analisis:
Ada rasa heran pada hati Minke ketika ia menyadari bahwa kemuliaan didapatkan seseorang diatas kesengsaraan orang lain, perasaan heran tersebut membawa Minke pada kebingungan. Karena kemuliaan adalah kedudukan yang tinggi. Tapi sangat miris ketika kedudukan yang tinggi serta martabat yang dijunjung tinggi didapatkan dengan cara menindas dan merampas hak orang lain, hal tersebut sungguh tidak bijaksana sebagai orang yang memiliki kedudukan tinggi.
2.      “Kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus, harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu.”
–Semua Anak Bangsa, hal 73
Analisis:
Minke berbicara pada diri sendiri untuk meyakinkan dan membulatkan tekadnya atas tujuannya tersebut, yaitu berbicara kepada orang yang tidak terpelajar dan membuat mereka menjadi terpelajar. Seorang terpelajar memiliki ilmu dan pengetahuaan yang lebih baik daripada orang yang tidak terpelajar. Maka dari itu Minke ingin membantu dan berbagi dengan orang yang tidak dapat mendapat kesempatan untuk menjadi seorang terpelajar.
3.      “Beda dengan Cina, yang dapat ditemui dan dilihat dimana saja di Hindia: kaki telanjangnya yang melangkahi jalan raya dan jalanan dusun, dengan barang dagangan di kulitnya yang cerah. Dan tidak pernah mengeluh! Orang tidak mengakrabinya. Karena keterbatasan bahasa mereka. Karena kelainan kebiasaan dan kepercayaan. Namun bagiku memang mempunyai kelebihan yang menarik. Tanpa mengayunkan pacul atau parang, tanpa membalik tanah dan tanpa menumbuhkan biji-bijian mereka dapat makan dan mampu hidup lebih baik daripada pribumi seumumnya. Orang tak mau melihat kelebihan mereka, kecuali melototi perbedaannya. Dan kalau Cina sudah punya kelebihan seperti itu, barangtentu Jepang malah lebih jauh lagi”.
–Semua Anak Bangsa, hal 65
Analisis:
Pada kutipan diatas Minke sedang membandingkan bangsa Cina dengan pribumi sebangsanya, tampak ia sedang memuji-muji bangsa Cina dengan kerja keras serta sikap bangsa Cina tersebut. Walaupun pada akhirnya Minke membandingkan Cina dengan Jepang yang lebih maju, tetapi Minke melihat bangsa Cina berbeda dengan sudut pandang pribumi lainnya.
4.     “Dalam kepalaku terbayang para raja dan bupati pribumi yang gila kebesaran. Orang-orang harus membungkuk dan merangkak di hadapan mereka, menyembah dan diperintah untuk menyenangkan hati mereka. Dan mereka belum tentu lebih terpelajar daripada orang yang diperintahnya.... dan di bumi kelahiranku jangankan terbayang, masuk dalam akal pun tidak. Tanpa kekuasaan kulit putih raja-raja pribumi akan kerahkan setiap orang untuk saling memusnahkan buat berebut unggul. Kan itu yang terjadi abad demi abad?”
 –Semua Anak Bangsa, hal 404
Analisis:
Ada rasa kesal dan prihatin yang Minke rasakan terhadap kenyataan yang ia dapati pada bangsanya dan ia juga meyakini bahwa tidak ada yang memikirkan kenyataan tersebut. Kenyataan yang terjadi yaitu pada Hindia di masa-masa kejayaan seorang raja, raja yang memerintah dan serakah akan kekuasaan belum tentu lebih memiliki pengetahuaan atau kecerdasan daripada masyarakat yang diperintahnya. Hal tersebut belum disadari oleh pribumi Hindia, padahal sudah berlangsung sangat lama.
5.      “Dan sekarang pikiranku membayangkan hebatnya emansipasi. Umat manusia akan runtuh tanpa wanita, katanya. Mengapa wanita mesti jadi landasan kehidupan? Mengapa diantara anak-anaknya sendiri yang karena kebetulan saja jadi lelaki, berkebaratan setengah mati kalau wanita tampil kedepan umum? Mengapa sampai sekarang Nederland tetap menutup kesempatan bagi wanita untuk jadi menteri dan anggota Tweede Kamer? Sekalipun Nederland sudah dua kali berurutan diperintah oleh raja perempuan?”.
-Semua Anak Bangsa, hal 436
Analisis:
Dalam kutipan tersebut Minke sedang bergejolak dengan pikirannya, memikirkan dan menelaah suatu hal yang ia sebut emansipasi wanita. Terlihat rasa penasaran dan pikiran kritis Minke terhadap emansipasi wanita. Perempuan di Hindia pada saat itu hanya bekerja yang berurusan dengan dapur dan rumah tangga.

No comments:

Post a Comment