KUTIPAN DALAM NOVEL “SEMUA ANAK
BANGSA”
1. “Betapa aneh kalau setiap kemuliaan
dilahirkan di atas kesengsaraan yang lain. Dan betapa kacau diri di tengah
kenyataan dunia, dalam tingkatan pendapat dan perasaan tak terumuskan”
– Semua Anak
Bangsa, hal 57
Analisis:
Ada rasa heran pada
hati Minke ketika ia menyadari bahwa kemuliaan didapatkan seseorang diatas
kesengsaraan orang lain, perasaan heran tersebut membawa Minke pada
kebingungan. Karena kemuliaan adalah kedudukan yang tinggi. Tapi sangat miris
ketika kedudukan yang tinggi serta martabat yang dijunjung tinggi didapatkan
dengan cara menindas dan merampas hak orang lain, hal tersebut sungguh tidak
bijaksana sebagai orang yang memiliki kedudukan tinggi.
2. “Kau pribumi terpelajar! Kalau
mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi
terpelajar. Kau harus, harus, harus, harus bicara pada mereka, dengan bahasa
yang mereka tahu.”
–Semua Anak
Bangsa, hal 73
Analisis:
Minke berbicara pada
diri sendiri untuk meyakinkan dan membulatkan tekadnya atas tujuannya tersebut,
yaitu berbicara kepada orang yang tidak terpelajar dan membuat mereka menjadi
terpelajar. Seorang terpelajar memiliki ilmu dan pengetahuaan yang lebih baik
daripada orang yang tidak terpelajar. Maka dari itu Minke ingin membantu dan
berbagi dengan orang yang tidak dapat mendapat kesempatan untuk menjadi seorang
terpelajar.
3. “Beda dengan Cina, yang dapat
ditemui dan dilihat dimana saja di Hindia: kaki telanjangnya yang melangkahi
jalan raya dan jalanan dusun, dengan barang dagangan di kulitnya yang cerah.
Dan tidak pernah mengeluh! Orang tidak mengakrabinya. Karena keterbatasan
bahasa mereka. Karena kelainan kebiasaan dan kepercayaan. Namun bagiku memang
mempunyai kelebihan yang menarik. Tanpa mengayunkan pacul atau parang, tanpa
membalik tanah dan tanpa menumbuhkan biji-bijian mereka dapat makan dan mampu
hidup lebih baik daripada pribumi seumumnya. Orang tak mau melihat kelebihan
mereka, kecuali melototi perbedaannya. Dan kalau Cina sudah punya kelebihan
seperti itu, barangtentu Jepang malah lebih jauh lagi”.
–Semua Anak
Bangsa, hal 65
Analisis:
Pada kutipan diatas
Minke sedang membandingkan bangsa Cina dengan pribumi sebangsanya, tampak ia
sedang memuji-muji bangsa Cina dengan kerja keras serta sikap bangsa Cina
tersebut. Walaupun pada akhirnya Minke membandingkan Cina dengan Jepang yang
lebih maju, tetapi Minke melihat bangsa Cina berbeda dengan sudut pandang
pribumi lainnya.
4.
“Dalam kepalaku terbayang para raja dan bupati
pribumi yang gila kebesaran. Orang-orang harus membungkuk dan merangkak di
hadapan mereka, menyembah dan diperintah untuk menyenangkan hati mereka. Dan
mereka belum tentu lebih terpelajar daripada orang yang diperintahnya.... dan
di bumi kelahiranku jangankan terbayang, masuk dalam akal pun tidak. Tanpa
kekuasaan kulit putih raja-raja pribumi akan kerahkan setiap orang untuk saling
memusnahkan buat berebut unggul. Kan itu yang terjadi abad demi abad?”
–Semua Anak Bangsa, hal 404
Analisis:
Ada rasa kesal dan
prihatin yang Minke rasakan terhadap kenyataan yang ia dapati pada bangsanya
dan ia juga meyakini bahwa tidak ada yang memikirkan kenyataan tersebut.
Kenyataan yang terjadi yaitu pada Hindia di masa-masa kejayaan seorang raja,
raja yang memerintah dan serakah akan kekuasaan belum tentu lebih memiliki
pengetahuaan atau kecerdasan daripada masyarakat yang diperintahnya. Hal
tersebut belum disadari oleh pribumi Hindia, padahal sudah berlangsung sangat
lama.
5. “Dan sekarang pikiranku
membayangkan hebatnya emansipasi. Umat manusia akan runtuh tanpa wanita,
katanya. Mengapa wanita mesti jadi landasan kehidupan? Mengapa diantara
anak-anaknya sendiri yang karena kebetulan saja jadi lelaki, berkebaratan
setengah mati kalau wanita tampil kedepan umum? Mengapa sampai sekarang
Nederland tetap menutup kesempatan bagi wanita untuk jadi menteri dan anggota
Tweede Kamer? Sekalipun Nederland sudah dua kali berurutan diperintah oleh raja
perempuan?”.
-Semua Anak
Bangsa, hal 436
Analisis:
Dalam kutipan tersebut
Minke sedang bergejolak dengan pikirannya, memikirkan dan menelaah suatu hal
yang ia sebut emansipasi wanita. Terlihat rasa penasaran dan pikiran kritis
Minke terhadap emansipasi wanita. Perempuan di Hindia pada saat itu hanya
bekerja yang berurusan dengan dapur dan rumah tangga.
No comments:
Post a Comment